Masyarakat Majemuk

DAMAI DALAM KEMAJEMUKAN

INDONESIA

Oleh  Wayan Gede Suacana

Apabila dilihat rentang perjalanan bangsa ini dalam 10 tahun terakhir, akan segera tampak aksi-aksi kekerasan dan terorisme dengan pengeboman masih sangat dominan. Hampir setiap tahun dalam kurun waktu itu, kecuali tahun 2006 dan 2008 peristiwa pengeboman terus-menerus terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Para pelaku pengeboman dalam mencapai tujuannya agaknya menjadi pembenaran pandangan Leo Tolstoy bahwa  sebagian besar kejahatan yang menimpa umat manusia adalah karena kepercayaan yang keliru bahwa kehidupan dapat dibuat aman dan damai dengan cara-cara kekerasan. Sejatinya sangat naif memperjuangkan segala bentuk idealisme, apakah itu keyakinan agama, kemerdekaan, keadilan, kebenaran dan kedamaian lewat cara-cara kekerasan.

o “Kebenaran” Subjektif

Tingginya intesitas penggunaan cara-cara kekerasan dan pengeboman seakan sudah menjadi “cara biasa” dalam mengatasi perbedaan prinsip dan keyakinan hidup di negara ini.. Dialog dari hati ke hati antara pihak-pihak yang berbeda paham nyaris tidak berjalan, karena yang terjadi adalah eksklusivisme, ketidakpercayaan serta kecurigaan yang menekankan “supremasi” dan “kebenaran”  sendiri.  Pada saat demikian, setiap individu maupun kelompok mudah terjebak dalam perangkap “kebenaran” subjektif serta kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, seperti lenyapnya kejujuran dan ketulusan hati (integrity) serta kelakuan yang benar, kedamaian, cinta kasih dan prinsip pantang kekerasan. Kondisi “anomali” ini beresiko memunculkan apa yang oleh Erich Fromm dikatakan sebagai ledakan perasaan destruktif, berupa tindakan yang dilandasi rasa kebencian dan dendam di bawah kedok “kebenaran” subjektif itu.

Dalam kondisi seperti itu, penerapan prinsip-prinsip etika dan moralitas juga  terabaikan. Ketiadaan arena dialog dan kecenderungan penggunaan cara-cara kekerasan, akan semakin menjauhkan dari kehidupan yang demokratis. Setiap orang atau kelompok punya banyak jawaban terhadap satu hal tapi tidak peduli pada pertanyaannya. Politik identitas yang oleh Benedict Anderson diyakini bisa menyatukan dengan berusaha menggeser batas-batas identitas komunitas sebuah bangsa menjadi kian pudar. Pluralisme bangsa dengan sistem pemilahan berdasarkan ideologi dan keyakinan menjadi semakin tajam, sebaliknya perekat sosio-kultural yang  telah ada dan dibina  sejak lama, seperti Bhinneka Tunggal Ika semakin dilupakan.

Pengabaian prinsip-prinsip etika dan moralitas dalam kehidupan berbangsa serta pengutamaan cara-cara kekerasan akan semakin menjauhkan bangsa ini dari paham musyawarah dan mufakat. Paham yang menjadi sila keempat dasar negara Pancasila ini sejatinya hendak menjadikan keinginan lebih dari suatu kehendak untuk memperlakukan sesama sebagaimana perlakuan terhadap diri sendiri. Kehendak ini berpijak atas dasar penghindaran terhadap segala bentuk kekerasan serta penghormatan terhadap keberagaman dan persatuan yang oleh Svami Vivekananda disebut sebagai “gong kematian” bagi fanatisme dan eksklusivisme.

o Landasan Multikulturalisme

Berpijak pada kondisi Indonesia kini, memperkuat multikulturalisme merupakan hal yang sangat mendesak sifatnya. Multikulturalisme memerlukan pengaturan bersama agar yang kecil  tak berubah wujud menjadi “fasis-fasis kecil” yang didasari oleh primordialisme. Setiap komunitas dibiarkan hidup dengan aspirasi dan rasionalitas keyakinan masing-masing yang selama ini sudah jalan sebagai bentuk kehidupan yang diakrabi, menjadi sebuah tradisi berbangsa dan bernegara.

Dengan multikulturalisme setiap orang atau kelompok sebagai komponen bangsa memiliki semangat penghargaan terhadap heterogenitas, dialog kultural, trans-kultural,  inklusivisme, pertukaran mutual, toleransi dan keterbukaan yang kritis. Memandang sesama anak bangsa, apapun perbedaannya sebagai saudara bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Untuk bisa memperkuat multikulturalisme serta terhindar dari cara-cara kekerasan, termasuk pengeboman, setidaknya perlu ditegakkan lima pilar nilai kemanusian. Pertama,  berpegang teguh pada kebenaran dan berusaha terus-menerus memperjuangkannya, betapa pun sulit dan pahitnya. Dalam mengungkapkan kebenaran hendaknya dalam rangka kebaikan bersama, dan tidak mencelakakan serta mengorbankan pihak lain. Kebenaran yang dipraktekkan dengan cara itu akan dapat mengatasi sekat-sekat perbedaan  paham, aspirasi, ras, suku, ideologi bahkan keyakinan agama.

Kedua, menjalankan tugas dan kewajiban tanpa memperhitungkan kepentingan sendiri atau golongan, serta menggunakan segenap tenaga dan pikiran untuk kebaikan masyarakat. Tenaga dan pikiran terutama ditujukan untuk menempuh  jalan kebajikan dalam rangka mengabdi pada masyarakat. Begitu pula, kesadaran untuk menumbuhkan rasa cinta dan sikap patriot terhadap tanah air, bangsa dan negara.

Ketiga, menyebarkan rasa damai setiap saat yang terpancar dari kesadaran akan realitas di dalam diri. Keadaan ini merupakan manifestasi keberadaan murni dari jiwa, karena kedamaian sendiri melampaui tingkat pemahaman. Visi sakral berkombinasi dengan kebebasan jiwa menghasilkan kedamaian yang dalam kenyataannya merupakan kebahagiaan bagi semua. Pada tataran ini tiada lagi perasaan iri hati dan dengki, serta bisa memperlakukan semua anak bangsa secara adil tanpa dibayangi lagi oleh ikatan primordialisme.

Keempat, memupuk cinta kasih murni tanpa ego. Bisa mengatasi kepicikan di dalam diri dan mengidentifikasikan diri dengan golongan lain dalam satu kesatuan. Mengakui persaudaraan antar manusia, memperlakukan semua orang sebagai saudara dan mencintai semuanya. Apabila sudah memiliki cinta kasih bagi yang lain, dengan berpegang teguh pada kebenaran, membaktikan diri untuk kebaikan orang lain, sesungguhnya itulah abdi negara dan pelayan masyarakat yang sebenar-benarnya.

Kelima, pantang menggunakan cara-cara kekerasan. Penyelesaian masalah dengan kekerasan biasanya justru akan mengundang munculnya kekerasan baru. Penggunaan cara-cara kekerasan bukannya menyadarkan pihak lawan tetapi lebih sering malah menyuburkan kebencian dan rasa dendam. Sebaliknya, dengan  pantang kekerasan, dapat mengembangkan cinta kasih dan persaudaraan sehingga dapat mengaktualisasikan diri sebagai makhluk sosial yang beradab. Pada akhirnya setiap orang atau kelompok sebagai komponen bangsa ini akan dapat menata diri secara inklusif, mengedepankan penerimaan tanpa diskriminasi, serta menghindari persaingan yang  memicu konfik kepentingan.

Penulis, mengajar di Universitas Warmadewa

dan PPS UNHI Denpasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: