Krama Pemilih Pascapemilu

KRAMA PEMILIH PASCAPEMILU

Oleh: Wayan Gede Suacana

Penyelenggaraan pemilu legislatif dan DPD 2009 baru saja berlalu. Walau berlangsung relatif aman tanpa banyak gejolak, namun pelaksanaan pemilu itu masih menyisakan sejumlah persoalan. Persoalan daftar pemilih tetap (DPT) yang berujung pada banyaknya krama yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya menjadi sasaran protes dari sejumlah tokoh politik. Keabsahan pemilu legislatif tersebut lalu menjadi pertanyaan berbagai pihak. Tetapi, disamping itu yang harus dicermati juga adalah bahwa pemilu kali ini masih jauh dari substansi demokrasi yang tidak semata-mata bisa dengan berbagai cara membujuk krama agar datang ke TPS untuk nyontreng caleg atau parpol tertentu tanpa peduli aspek etika dan pendidikan politiknya.

Persoalan Nyontreng

Para caleg menggiring krama pemilih sedemikian rupa seakan nyontreng adalah merupakan tujuan pemilu. Padahal cara pemahaman demikian mengandung beberapa kelemahan pokok. Pertama,  keterbatasan indikator hanya pada saat nyontreng akan sangat mengurangi makna demokrasi dari substantif menjadi prosedural. Apalagi partisipasi politik krama lantas “dirasionalisasi” dari krama yang datang memilih saja dengan mengabaikan krama yang tidak memilih sehingga kekuasaan politik mereka menjadi sangat berkurang. Kedua, demokrasi berlangsung terbatas hanya dalam kurun waktu tertentu yaitu ketika sebuah “pesta demokrasi” digelar. Kemungkinan “demokratisasi” lebih lanjut menjadi dikesampingkan, karena suasana romantis antara caleg dan krama pemilih hanya berlangsung menjelang dan saat nyontreng saja. Ketiga, secara langsung atau tidak langsung caleg dan krama pemilih dikondisikan pada “kewajaran” (karena sebagian besar melakukan itu) untuk memberi dan atau menerima sesuatu sebagai imbalan politik, tanpa hirau “kebenaran” (secara normatif, etika dan moral) dari tindakan itu.
Begitu pula praktik demokrasi melalui pemilu 2009 lalu, masih mencerminkan bentuk keterlibatan krama yang minimal, sebatas ungkapan budaya parokial-kaula. Pemberian suara dalam pemilu umumnya dianggap tidak banyak artinya, hanya sebuah norma yang sudah diinternalisasikan dan ditopang oleh tekanan sosial yang kuat. Krama berduyun-duyun menuju bilik suara, walaupun tidak memiliki semangat kepartaian (karena banyaknya jumlah partai), tidak berminat dengan kampanye dan tidak perduli dengan hasil pemilu tetapi semata-mata menghindari rasa cemas yang dapat timbul karena melanggar norma sosial yang sudah mapan. Dalam kondisi demikian, perilaku nyontreng dalam pemilu hanya memiliki efek memperkuat posisi politisi, sedangkan krama cenderung segera dilupakan setelah memilih. Kegiatan tersebut juga berefek disempowering terhadap penerapan prinsip demokrasi yang dilakukan oleh krama pemilih, karena telah “mengalihkan” bentuk partisipasi politik dan demokrasi substantif menjadi “pesta” rutin lima tahunan.

Memberdayakan Krama Pemilih

Pengalihan makna demokrasi menjadi hanya terbatas kegiatan nyontreng saat pemilu, tidak hanya menumbuhkan budaya politik parokial kaula—dimana rakyat sangat minim memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki kompetensi terlibat dalam proses politik,  tetapi juga tidak kondusif bagi upaya pendidikan dan pemberdayaan krama pemilih. Pemberdayaan disini bermakna sangat dekat dengan demokratisasi—kalau demokratisasi tidak diartikan secara terbatas hanya pada saat memilih dalam pemilu saja. Krama semestinya tetap diperhatikan dan memiliki akses politik pascapemilu legislatif. Untuk itu paling tidak ada dua hal yang bisa dilakukan.
Pertama, program pendidikan dan pemberdayaan krama pemilih itu semestinya tidak berhenti setelah pemilu usai. Caleg yang terpilih maupun caleg yang tak terpilih melalui partai politik semestinya bisa melanjutkan program yang dikemukakan saat kampanye itu secara terus menerus  yang sekaligus menunjukkan eksistensi dan kemampuan kader partai  untuk secara konsisten memformulasikan dan menerapkan program. Kesetiaan krama pemilih akan tetap bisa “dijaga” oleh kader partai dan partai politik, dan hal ini sekaligus merupakan modal politik yang sangat diperlukan  untuk berkompetisi dalam pemilu berikutnya. Di sini kematangan dan kesiapan mental caleg sebagai kader partai diuji terutama ketika caleg belum terpilih sebagai anggota legislatif. Mereka hendaknya bisa menerima kekalahan dengan legawa kalau gagal memperoleh jumlah dukungan suara yang dipersyaratkan, dan tidak ngambul dari tugas-tugas selaku kader partai. Harus diakui bahwa sistem pemilu multipartai dengan cara pengusungan caleg dengan sistem proporsional terbuka turut mendorong gangguan kejiwaan terutama para caleg yang tidak berhasil lolos. Tetapi, belum berfungsinya sistem rekrutmen dan kaderisasi parpol juga bisa menjadi salah satu penyebab. Belum banyak partai politik yang ikut berkompetisi dalam pemilu legislatif lalu telah melakukan rekrutmen dan kaderisasi dengan sistem meritual hingga benar-benar menjadi kader yang matang dan siap menghadapi segala resiko politik. Kebanyakan caleg yang direkrut merupakan caleg dadakan yang menjadi anggota partai politik hanya beberapa bulan bahkan beberapa minggu menjelang pendaftaran partai peserta pemilu.
Kedua,  program pendidikan dan pemberdayaan krama pemilih ini juga bisa dibuat berkesinambungan sebagai program partai dengan memanfaatkan kecanggihan sistem teknologi informasi. Internet adalah salah satu contohnya. Beberapa parpol dan caleg sudah ada yang membuka website atau blog dengan memuat berbagai aktivitas partai maupun kegiatan caleg secara lebih menarik dan mudah diakses. Website maupun Blog ini harus dikelola secara profesional sehingga dapat berfungsi sebagai media komunikasi baik secara internal dengan para kader partai, maupun sebagai media komunikasi eksternal dengan konstituen maupun masyarakat luas.
Dengan kedua hal itu, setidaknya pemberdayaan krama pemilih pascapemilu legislatif akan tetap bisa dilakukan sekaligus mereka  tetap dapat menggunakan hak-hak politiknya serta memiliki akses baik dengan parpol maupun lembaga legislatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: