Meditasi

SEHAT DAN DAMAI DENGAN

BERMEDITASI

Oleh Wayan Gede Suacana

Dalam konstelasi sosial politik yang mulai menghangat saat ini, meditasi–yang tidak selalu inheren dengan mistik—dapat dilatih untuk menyehatkan tubuh fisik dan psikis sekaligus mendamaikan pikiran. Dengan meditasi, menurut Svami Sathya Narayana, seseorang dilatih berkonsentrasi (avadhana) agar bisa menetapkan perhatian ke suatu hal (ekagatha). Praktek meditasi membantu mengkoordinasikan tubuh dan pikiran menjadi lebih efektif, sehingga bisa mendapatkan keseimbangan mental, ketenangan dan kedamaian batin.

Setiap orang pasti mendambakan hidup sehat dan damai, lepas dari tekanan-tekanan hidup yang memicu stress. Hidup tenang dan damai adalah impian setiap insan di muka bumi ini. Oleh karena pikiran merupakan akar permasalahan stress, penting bagi kita untuk mengendalikannya agar problema yang ada dapat segera diatasi. Salah satu cara mengendalikan dan menjaga keseimbangan pikiran adalah dengan bermeditasi.

∞ Sehat Fisik dan Psikis

Berbagai eksprimen seperti yang telah dielaborasi oleh Soeripto, menunjukkan reaksi organisme manusia terhadap meditasi adalah kebalikan dari reaksinya terhadap stress, seperti: menenangkan sistem syaraf pusat, menenangkan denyut jantung, merendahkan tekanan darah hingga 20 % dan menenangkan pernafasan sampai kurang dari setengah tingkat normalnya. Hal inilah yang menyebabkan ketika bermeditasi–karena semua proses tubuh dalam keadaan rileks, akan dapat dinikmati istirahat penuh, lebih dalam dari tidur, sehingga banyak energi terkumpul untuk aktivitas berikutnya. Kita dapat merasakan bertambahnya kegesitan fisik dan kejernihan mental, sesuatu yang jarang bisa diperoleh dengan istirahat biasa.

Pada diri seorang meditator (praktisi meditasi), kadar asetilkholin dalam darahnya akan konstan. Hal ini akan diikuti oleh proses pengereman aktivitas serabut otak bawah sadar (hypothalamus), sehinga produksi kathekolamin (adrenalin dan nonadrenalin) menurun. Disamping itu pacuan yang terjadi pada saraf simpatis juga akan direm. Asetilkholin dalam darah yang ada akan lebih banyak digunakan oleh saraf parasimpatis, dengan demikian peranan saraf parasimpatis akan lebih dominan. Keadaan ini juga menambah penekanan produksi adrenalin dan nonadrenalin. Berkurangnya katekholamin dalam darah akan memberikan reaksi kepada meditator untuk menjadi lebih tenang, denyut jantung menjadi lebih lambat, tekanan darah menjadi stabil. Dalam mengatur keseimbangan kadar katekholamin darah, enzim oksidase monoamin mempunyai peranan penting. Jika meditasi berhasil maka enzim ini akan aktif, sehingga kenaikan kadar katekholamin darah dapat segera diantisipasi.

Telah diketahui pula bahwa insulin dapat menetralkan efek adrenalin. Jika insulin mempunyai efek dominan maka kadar gula darah akan stabil. Disamping itu insulin juga dapat mencegah adanya timbunan lipid (kolesterol) dan kerusakan protein. Pada meditator, pengaruh insulin juga akan dominan, dengan demikian meditasi akan dapat mencegah terjadinya diabetes melitus, penyakit jantung serta penyakit pembuluh darah. Adanya protein yang cukup karena perusakan dapat dicegah, akan menyebabkan kondisi kesehatan terutama daya tahan dan kesembuhan, serta kondisi tubuh yang prima. Disamping itu, jika aktivitas katekholamin yang meningkat selalu dapat ditangkal maka kerusakan sel-sel di alat tubuh dapat dihindari, metabolisme berjalan dengan optimal akibatnya orang akan tetap awet muda (rejuvenasi).

Dari aspek psikis, meditasi terbukti ampuh mencegah dan mengatasi dua jenis stress sekaligus. Pertama, stress akut/ mendadak yang diakibatkan gangguan hidup sehari-hari, seperti kemacetan lalu lintas, antrian panjang di bank/ super market, tetangga yang cerewet atau pun dering telepon yang membisingkan. Kedua, stress kronis yang diakibatkan dosa masa lalu, dendam yang terpendam dan penyesalan yang belum terungkapkan.

Bila terdapat rangsangan yang dapat menimbulkan stress maka karena neurotransmiter yang ada di otak, bekerja menghambat atau memutuskan rangsangan penyebab stress sehingga rangsangan yang sampai di otak bawah sadar menjadi kecil atau bahkan dapat dihilangkan. Di samping itu di otak juga dihasilkan substansi kimiawi yang berkerja identik dengan valium atau obat penenang yaitu asam isobutirat. Pada meditator, proses tersebut dapat terjadi dengan intensitas yang lebih besar dari orang yang tidak bermeditasi. Akibatnya, meditator dapat mencegah sejak dini stress yang terjadi pada dirinya.

Dengan adanya hambatan impuls karena neurotransmiter, dan mengakibatkan rangsangan yang kecil di otak bawah sadar maka pacuan ke kelenjar hipofise dan saraf simpatis menjadi sangat kecil, kathekolamin dan lain-lain tidak meningkat akibatnya gejala stress tidak timbul. Di saraf tepi, bekerja substansi kimia hasil meditasi yang identik dengan beta-blocker, yang memblokir simpul-simpul saraf simpatis. Dari adanya proses di saraf pusat, saraf tepi dan perubahan kimiawi di dalam darah inilah alasan mengapa meditasi diyakini mampu menjaga kesehatan dan mengatasi stress.

∞ Kedamaian Batin

Disamping dapat meningkatkan kesehatan fisik dan psikis, meditasi juga berhubungan erat dengan konsentrasi pikiran dan kedamaian batin. Setiap orang dapat mencapai sukses dalam jabatan atau pekerjaannya hanya dengan konsentrasi dalam pekerjaan. Bahkan penyelesaian tugas yang paling remeh pun membutuhkan kualitas konsentrasi. Manusia diberkati dengan pembawaan kekuatan yang tak terbatas. Tak ada seseorang pun yang tidak memilikinya. Tetapi karena tak menyadari kebenaran ini, manusia sering tersesat. Untuk mencapai kesadaran akan kekuatan ini, diperlukan latihan meditasi, bergaul dengan orang-orang yang suci, serta harus berjuang dengan disiplin spiritual (sadhana).

Pemusatan perhatian dan konsentrasi merupakan hal yang mutlak dalam meditasi. Hal ini sudah dikembangkan dalam metode sederhana penemuan Maharsi Mahesh Yogi: Trancendental Meditation (TM), maupun dalam Meditasi Tao atau latihan Zen di Jepang. Ketiganya  memberikan penekanan yang kurang lebih serupa.

Latihan konsentrasi melalui meditasi juga dapat dilakukan dengan metode yang dikembangkan oleh Swami Vivekananda. Pertama-tama, praktek meditasi haruslah melalui satu obyek tertentu sebagai umpan pikiran. Mulailah dengan pemusatan pikiran misalnya pada satu titik, atau cahaya. Akhirnya, secara bertahap titik atau cahaya itu tidak terlihat  lagi dan kita tidak menyadari bahwa titik itu ada di hadapan kita. Pikiran tidak ada lagi, tidak timbul gelombang kerja, segala-galanya merupakan samudra tanpa batas. Apabila kita sudah sampai pada keadaan ini, pikiran sudah memasuki tingkat kebenaran yang diluar batas perasaan. Dengan begitu, praktek meditasi sekalipun dengan sesuatu obyek lahir yang tidak berarti, akan mengarah pada kosentrasi batin (avadhana).

Konsentrasi tersebut diperlukan untuk memahami setiap hal dengan baik dengan mengarahkan dan menetapkan perhatian/ pikiran ke suatu hal (ekagatha). Hal ini masih merupakan suatu proses mengendalikan pikiran. Konsentrasi dalam tugas akan mengembangkan  kepercayaan dan harga diri, karena semua itu merupakan hasil peningkatan kekuatan serta keahlian. Namun, hal ini tak akan dapat diperoleh tanpa menaklukkan ketagihan atau keinginan duniawi yang sering mengganggu pikiran.

Para yogi dan pribadi-pribadi agung juga bermeditasi untuk dapat menguasai kegiatan mental mereka. Mengarahkan pikiran mereka ke jalan yang benar, serta menetapkan diri merenungkan Tuhan sepanjang waktu (namasmaranam) hingga akhirnya berhasil menyatu dengan-Nya. Pertama-tama harus ada semacam kerinduan, kemudian menetapkan tujuan, setelah itu konsentrasi, dan melalui disiplin yang ketat tercapailah keseimbangan dan kedamaian batin.

Kedamaian batin, ketenangan jiwa dapat dikatakan suatu usaha menciptakan kepribadian yang satwik dan seimbang. Cara pertama untuk kedamaian batin adalah ketidakterikatan, sadar akan diri sendiri, melihat diri sendiri dari “luar” dan tidak terlalu terikat pada orang, benda, situasi dan jabatan. Ketidakterikatan adalah salah satu teknik mengembangkan kedamaian batin. Cara kedua, mengusahakan kedamaian bagi sesama,  maka kedamaian yang sama akan menghampiri kita juga. Apa yang kita tanam itulah yang akan dipetik. Apabila kita menanam kedamaian dalam hati dan pikiran orang lain, kita akan menuai kedamaian dalam jumlah yang tak terbatas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: